BUKITTINGGI
Bukittinggi merupakan salah satu kota yang ada di Sumatera Barat, dan merupakan kota wisata yang memiliki banyak keindahan alam seperti ngarai sianok, lobang jepang, jam gadang, dan sebagainya.
| Jam Gadang adalah nama untuk menara jam yang terletak di pusat kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang, sebutan bahasa Minangkabau yang berarti "jam besar". Selain sebagai pusat penanda kota Bukittinggi, Jam Gadang juga telah dijadikan sebagai objek wisata dengan diperluasnya taman di sekitar menara jam ini. Taman tersebut menjadi ruang interaksi masyarakat baik di hari kerja maupun di hari libur. Acara-acara yang sifatnya umum biasanya diselenggarakan di sekitar taman dekat menara jam ini. |
Bukittinggi dalam kehidupan ketatanegaraan semenjak
zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang serta zaman
kemerdekaan dengan berbagai variasinya tetap merupakan pusat
Pemerintahan Sumatera bahagian Tengah maupun Sumatera secara
keseluruhan, bahkan Bukittinggi pernah berperan sebagai Pusat
Pemerintahan Republik Indonesia setela Yogyajarta diduduki Belanda dari
bulan Desember 1948 sampai dengan bulan Juni 1949.
Semasa pemerintahan Belanda dahulu, Bukittinggi oleh
Belanda selalu ditingkatkan perannya dalam ketatanegaraan, dari apa yang
dinamakanGemetelyk Resort berdasarkan Stbl tahun 1828. Belanda telah
mendirikan kubu pertahanannya tahun 1825, yang sampai sekarang kubu
pertahanan tersebut masih dikenal dengan Benteng " Fort De Kock ". Kota
ini telah digunakan juga oleh Belanda sebagai tempat peristirahatan
opsir-opsir yang berada di wilayah jajahannya di timur ini.
Oleh pemerintah Jepang, Bukittinggi dijadikan sebagai
pusat pengendalian Pemerintah militernya untuk kawasan Sumatera, bahkan
sampai ke Singapura dan Thailand karena disini berkedudukan komandan
Milioter ke 25. Pada masa ini Bukittinggi berganti nama dari
Taddsgemente Fort de Kock menjadi Bukittinggi Si Yaku Sho yang daerahnya
diperluas dengan memasukkan nagari-nagari Sianok, Gadut, Kapau, Ampang
Gadang, Batu taba dan Bukit Batabuah yang sekarang kesemuanya itu kini
berada dalam daerah Kabupaten Agam, di Kota ini pulalah Pemerintah bala
tebtara Jepang mendirikan pemancar Radio terbesar untuk pulau Sumatera
dalam rangka mengibarkan semangat rakyat untuk menunjang kepentingan
peramg Asia Timur Raya versi Jepang.
Pada zaman perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia
Bukitinggi berperan sebagai kota perjuangan. Dari bulan Desember 1948
sampai dengan bulan Juni 1949 ditunjuk sebagai Ibu Kota Pemerintahan
darurat Republik Indonesia ( PDRI ), setelah Yogyakarta jatuh ke tangan
Belanda.
Selanjutnya Bukittinggi pernah menjadi Ibukota
Propinsi Sumatera dengan Gubernurnya Mr. Tengku Muhammad Hasan.
Kemudian dalam peraturan Pemerintah Pengganti undang-undang No. 4 tahun
1959 Bukittinggi ditetapkan sebagai Ibu Kota Sumatera Tengah yang
meliputi keresidenan-keresidenan Sumatera Barat, Jambi dan Riau yang
sekarang masing-masing Keresidenan itu telah menjadi Propinsi-propinsi
sendiri.
Setelah keresidenan Sumatera Barat dikembangkan
menjadi Propinsi Sumatera Barat, maka Bukittinggi ditunjuk sebagai Ibu
Kota Propinsinya,. semenjak tahun 1958 secara defacto Ibukota Propinsi
telah pindah ke Padangnamun secara deyuire barulah tahun 1978
Bukittinggi tidak lagi menjadi Ibukota Propinsi Sumatera Barat, dengan
keluarnya Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 1979 yang memindahkan
Ibukota Propinsi Sumatera Barat ke Padang.
Sekarang ini Bukittinggi berstatus sebagai kota madya
Daerah Tingkat II sesuai dengan undang-undang No. 5 tahun 1974 tentang
Pokok Pemerintah di Daerah yang telah disempurnakan dengan UU NO.
22/99menjadi Kota Bukittinggi. ( http://www.bukittinggikota.go.id/index.php?class=text&file_id=127 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar